Tuesday, 16 February 2016

Makalah Filsafat Pendidikan: Ibn Khaldun

I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan proses membimbing, membina, mengajarkan manusia agar manusia dapat mengetahui berbagai hal, dan dapat me­ngetahui apa yang seharusnya dilakukan olehnya sebagai mahluk yang disebut manusia, oleh karena itu pendidikan merupakan kebutuhan setiap manusia, dengan adanya pendidikan manusia akan mampu melakukan apapun yang dia inginkan, dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi dalam dirinya serta mengembangkan akal pikirannya sehingga dalam melakukan segala sesuatu manusia tidak me-ngalami kesalahan yang fatal. Pendidikan terhadap manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang diantaranya faktor keluarga, dan lingkungan tempat manusia hidup dan bergaul. Pendidikan yang baik akan menjadikan manusia tersebut baik pula dan sebaliknya pendidikan yang buruk akan mengakibatkan buruk pula bagi manusia yang mengalaminya.
Mengenai pendidikan banyak sekali pemikiran-pemikiran para cendikiawan mengenai pendidikan terhadap manusia baik cendikiawan islam ataupun cendikiawan non-islam. Pemikiran para ahli mengenai pendidikan sangat beragam, namun banyak pula kesamaan pemikiran.
Di dalam makalah ini kami akan menjabarkan tentang salah seorang cendikiawan muslim bernama Ibn Khaldun. Termasuk di dalam makalah ini adalah tentang pemikiran beliau tentang konsep pendidikan, karya-karya, serta riwayat hidup Ibn Khaldun yang mengesankan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana biografi Ibn Khaldun ?
2.      Bagaimana karya-karya dari Ibn Khaldun ?
3.      Bagaimana pemikiran Ibn Khaldun mengenai konsep pendidikan ?
C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui biografi dari Ibn Khaldun.
2.      Untuk mengetahui apa saja karya-karya Ibn Khaldun.
3.      Untuk mengetahui bagaimana pemikiran Ibn Khaldun mengenai konsep pendidikan.

II.    PEMBAHASAN
A.    Biografi Ibn Khaldun
Wali ad-Din Abu Zaid Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun al-Hadrami al-Ishbili, disingkat Ibn Khaldun. lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332 M dan wafat di Kairo pada 17 Maret 1406.[1]
Ibn Khaldun adalah keturunan keluarga yang terkenal dan ber-pengaruh serta terpelajar yang hidup pada masa penakhlukkan Andalusia. Dia dibesarkan dalam pangkuan ayahnya yang sekaligus merupakan guru pertamanya. Bersama ayahnya ia di ajari membaca al-Qur’an dan meng-hafalnya serta mempelajari berbagai macam qira’at dan penafsirannya, sekaligus belajar hadits dan fiqih. Selain dari ayahnya, ia juga diajari tata bahasa dan retorika oleh ulama terkenal di Tunisia.[2] Lebih lanjut, berikut ini dituliskan guru-guru yang sempat dihampiri oleh Ibn Khaldun untuk belajar, yaitu: Bidang bahasa adalah Abu Abdillah Muhammad Ibn Al-‘Arabi al-Hasyayiri, Abu al-‘Abbas Ahmad ibn al-Qassar, Abu ‘Abdillah Ibn Bahar. Bidang keilmuan hadits, Syamsuddin Abu ‘Abdillah al-Wadiyasi. Bidang fiqh, ia belajar pada sejumlah guru, di antaranya Abu ‘Abdillah mUhammad al-Jiyani dan Abu Qahiri. Selain ilmu-ilmu keislaman, Ibn Khaldun juga belajar ilmu-ilmu rasional (filosofis), yaitu teologi, logika, ilmu alam, matematika dan astronomi, kepada Abu’Abdillah Muhammad ibn Al-Abili.
Dalam masa mudanya yang belum genap 20 tahun, Ibn Khaldun telah terlibat dalam berbagai intrik politik. Libido politiknya yang cukup tinggi membuatnya sangat menikmati dunia politik yang keras dan penuh intrik tersebut. Dalam dunianya ini, Ibn Khaldun tercatat sebagai peng-khianat karena seringnya ia berganti tuan demi sebuah jabatan. Hal ini terus berlangsung hingga akhirnya ia sampai pada titik jenuh dan memutuskan untuk meninggalkan panggung politik tersebut dan mengukuhkan diri bersama keluarga di Qal’at ibn Salamah.
Dalam masa kontemplasi di Qal’at ibn Salamah inilah kemudian ia menyelesaikan sebuah karya menumentalnya (al- Muqaddimah), yang hingga hari ini masih menjadi santapan intelektual bagi para sarjana diberbagai penjuru dunia.
Setelah empat tahun tinggal di Qal’at Ibn Salamah, perjalan hidup nya di lanjutkan di Mesir. Di tempat tinggal barunya ini ia disibukkan dengan berbagai kegiatan seperti guru, qadi, diplomat dan kegiatan kenegaraan lainnya. Sebagai seorang guru, ia cukup dikagumi karena kemampuan mengajarnya yang membuat semua orang terpukau. Sedangkan sebagai qadi dari mazhab maliki, ia menunaikan tugasnya dengan seadil-adilnya.[3]
Selanjutnya, tidak banyak catatan menarik dari kehidupannya di Mesir kecuali dua hal, pertama, karirnya sebagai qadi yang bongkar pasang karena sebanyak enam kali. Dan berikutnya, adalah pertemuannya dengan Timurlane, seorang penakluk dari Mongol (1401), dimana ia sempat tinggal selama 35 hari dalam tenda Timur. Lima tahun pasca pertemuan tersebut, tepatnya 17 Maret 1406 Ibn Khaldun wafat dalam jabatannya sebagai qadi mazhab Maliki yang ke-enam kalinya.
B.     Karya-Karya Ibn Khaldun
Ibn Khaldun sudah memulai kariernya dalam bidang tulis menulis semenjak masa mudanya, tatkala ia masih menuntut ilmu pengetahuan, dan kemudian dilanjutkan ketika ia aktif dalam dunia politik dan pemerintahan. Adapun hasil karya-karyanya yang terkenal di antaranya adalah:[4]
1.       Kitab Muqaddimah
Merupakan buku pertama dari kitab al-‘Ibar, yang terdiri dari bagian muqaddimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku tersebut pulalah yang mengangkat nama Ibn Khaldun menjadi begitu harum. Adapun tema muqaddimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarahnya.
2.       Kitab al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar, fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi as-Sulthani al-‘Akbar.
Atau “Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang-orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan Mereka”, yang kemudian terkenal dengan kitab ‘Ibar, yang terdiri dari tiga buku dan beberapa jilid.
3.       Kitab al-Ta’rif bi Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqon wa Ghorban (al-Ta’rif).
Oleh orang-orang Barat disebut dengan Autobiografi, merupakan bagian terakhir dari kitab al-‘Ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai kehidupan Ibn Khaldun. Dia menulis autobiografinya secara sistematis dengan menggunakan metode ilmiah, karena terpisah dalam bab-bab, tapi saling berhubungan antara satu dengan yang lain.
C.     Konsep Pendidikan Ibn Khaldun
1.      Tujuan Pendidikan
Ibn Khaldun berpendapat bahwa tujuan pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal. Samsul Kurniawan dan Erwin Mahrus menyebutkan tiga tujuan pendidikan menurut Ibn Khaldun, yaitu:
a.       Tujuan peningkatan pemikiran
Ibn Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan pen-didikan adalah memberikan kesempatan pada akal untuk lebih giat dan melaksanakan aktivitas. Hal ini dapat dilakukan melalui proses menuntut ilmu dan keterampilan.
Dengan menuntut ilmu dan ketrampilan, seseorang akan dapat meningkatkan kegiatan potensi akalnya. Di samping itu, melalui potensinya, akan mendorong manusia untuk memperoleh dan melestarikan pengetahuan. Melalui proses belajar, manusia senantiasa mencoba meneliti pengetahuan-pengetahuan atau informasi-informasi yang diperoleh oleh pendahulunya.
Atas dasar pemikiran tersebut, tujuan pendidikan menurut Ibn Khaldun adalah peningkatan kecerdasan manusia dan ke-mampuannya berfikir. Dengan kemampuan tersebut, manusia akan dapat meningkatkan pengetahuanya dengan cara memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan pada saat belajar.
b.      Tujuan peningkatan kemasyarakatan
Menurut Ibn Khaldun, ilmu dan pengajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat ke arah yang lebih baik. Semakin dinamis budaya suatu masyarakat, semakin bermutu dan dinamis pula keterampilan masyarakat tersebut. Untuk itu, manusia seyogyanya berusaha memperoleh ilmu dan keterampilan sebanyak mungkin sebagai salah satu cara membantunya untuk dapat hidup dengan baik dalam masyarakat yang dinamis dan berbudaya.
c.       Tujuan pendidikan dari segi keruhanian
Tujuan pendidikan dari segi keruhanian adalah dengan meningkatkan  keruhanian manusia dengan menjalankan praktik ibadah, dzikir, khalwat (menyendiri), dan mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan ibadah sebagaimana yang dilakukan para sufi.[5]
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu pe-ngetahuan akan tetapi juga untuk mendapatkan keahlian. Dia telah memberikan porsi yang sama antara apa yang akan dicapai dalam urusan akhirat dan duniawi, karena baginya pendidikan adalah jalan untuk memperoleh rizki. Maka atas dasar itulah Ibn Khaldun beranggapan bahwa target pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena dia memandang aktivitas ini sangat penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu. Karena kematangan berfikir adalah alat kemajuan ilmu industri dan sistem sosial. 
2.      Klasifikasi Ilmu
Ibn Khaldun membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga macam, yaitu:
a.       Ilmu Lisan (bahasa)
Yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika) sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis (syair).
b.      Ilmu Naqli
Yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunah Nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci Al-Qur’an dan tafsirnya, sanad dan hadits yang pentashihannya serta istimbat tentang kaidah-kaidah fiqih. Dengan ilmu ini manusia dapat mengetahui hukum-hukum Allah yang diwajibkan kepada manusia.
c.       Ilmu Aqli
Yaitu ilmu yang diperoleh manusia melalui kemampuan berfikir. Proses perolehannya dilakukan melalui panca indra dan akal.[6]
Ibn Khaldun menyusun ilmu-ilmu naqli sesuai dengan manfaat dan kepentingan bagi peserta didik kepada beberapa ilmu, yaitu:
1.      Al-Qur’an
2.      Ulumul Qur’an
3.      Ulumul Hadits
4.      Ushul Fiqih
5.      Fiqih
6.      Ilmu Kalam
7.      Ilmu Tasawuf
8.      Ilmu Ta’bir al-Ru’ya
Sedangkan untuk ilmu aqli, Ibn Khaldun membaginya menjadi empat kelompok, yaitu:
1.      Ilmu Logika
2.      Ilmu Fisika
3.      Ilmu Metafisika
4.      Ilmu Matematika.[7]
3.      Sifat-Sifat Pendidik
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik hendaknya mampu menggunakan metode mengajar yang efektif dan efisien. Dalam hal ini Ibn Khaldun mengemukakan 6 prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu:
a.       Prinsip pembiasaan
b.      Prinsip tadrij (berangsur-angsur)
c.       Prinsip pengenalan umum (generalistik)
d.      Prinsip kontinuitas
e.       Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik
f.       Menghindari kekerasan dalam mengajar.[8]
Seorang pendidik akan berhasil dalam tugasnya apabila memiliki sifat-sifat yang mendukung profesionalismenya. Sifat-sifat tersebut antara lain:
a.       Pendidik hendaknya memiliki sifat lemah lembut, senantiasa menjauhi sifat kasar, dan menjauhi hukuman yang merusak fisik dan psikis peserta didik, tertutama terhadap peserta didik yang masih kecil.
b.      Pendidik hendaknya menjadikan dirinya sebagai uswatun khasanah (teladan yang baik) bagi peserta didik.
c.       Pendidik hendaknya memperhatikan kondisi peserta didik dalam memberikan pengajaran sehingga metode dan materi dapat di-sesuaikan secara proposional.
d.      Pendidik hendaknya mengisi waktu luang dengan aktivitas yang berguna.
e.       Pendidik harus profesional dan mempunyai wawasan yang luas tentang peserta didik, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwanya, serta kesiapan untuk menerima pelajaran.[9]
4.      Peserta Didik
Dalam kaitannya dengan peserta didik, Ibn Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya sebagaimana yang acapkali dibicarakan para filosof, baik itu filosof dari golongan muslim atau non-muslim. Ia lebih banyak melihat manusia dalam hubungannya dan interaksinya dengan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat.
Peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Di sini peserta didik merupakan makhluk Allah yang memiliki fitrah jasmani maupun rohani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran, maupun perimbangan pada bagian-bagian lainnya. Dari segi rohaniah, ia memiliki bakat, kehendak, perasaan, dan pikiran yang dinamis dan perlu dikembangkan.
Pada dasarnya peserta didik adalah:
a.       Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa, akan tetapi memiliki dunianya sendiri. Hal ini sangat penting untuk dipahami agar perlakuan terhadap mereka dalam proses kependidikan tidak disamakan dengan pendidikan orang dewasa, bahkan dalam aspek metode, mengajar, materi yang akan diajarkan, sumber bahan yang digunakan dan sebagainya.
b.      Peserta didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi periodesasi perkembangan dan pertumbuhan. Aktivitas kependidikan Islam disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang pada umumnya dilalui oleh setiap peserta didik. Karena kadar kemampuan peserta didik ditentukan oleh faktor-faktor usia dan periode perkembangan atau pertumbuhan potensi yang dimilikinya.
c.       Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik menyangkut kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani yang harus dipenuhi.
d.      Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individual (diferensiasi individual), baik yang disebabkan oleh faktor pembawaan maupun lingkungan di mana ia berada.
e.       Peserta didik merupakan resultan dari dua unsur alam, yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani memiliki daya fisik yang menghendaki latihan dan pembiasaan yang dilakukan melalui proses pendidikan. Sementara unsur rohani memiliki dua daya, yaitu daya akal dan daya rasa. Untuk mempertajam daya akal maka proses pendidikan hendaknya melalui ilmu-ilmu rasional. Adapun untuk mempertajam daya rasa dapat dilakukan melalui pendidikan akhlak dan ibadah.
f.       Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.[10]
5.      Kurikulum
Berbeda dengan pengertian kurikulum modern yang telah mencakup konsep lebih luas dan setidaknya terdiri dari tiga point penting, yaitu; mencakup kurikulum yang memuat isi dan materi pelajaran, kurikulum sebagai rencana pembelajaran dan kurikulum sebagai pengalaman belajar. Pengertian kurikulum pada masa Ibn Khaldun masih cukup sempit, yaitu terbatas pada maklumat-maklumat dan pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolah dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab-kitab tradisional yang tertentu, yang dikaji oleh murid dalam tiap tahap pendidikan. Pengertian yang sempit terhadap kurikulum pada zaman itu tidak saja berlaku pada dunia Islam, bahkan juga di sebahagian negeri-negeri Timur, negeri-negeri Afrika yang bukan Islam, bahkan negeri-negeri Barat.[11]
Kembali kepada ibn Khaldun, dalam pembahasannya mengenai kurikulum ibn Khaldun mencoba membandingkan kurikulum-kurikulum yang berlaku pada masanya, yaitu kurikulum pada tingkat rendah yang terjadi di negara-negara Islam bagian Barat dan Timur. Dari hasil analisis komparasinya, disimpulkan bahwa kurikulum pendidikan yang diajarkan kepada peserta didik setidaknya meliputi tiga hal, yaitu: pertama, kurikulum sebagai alat bantu pemahaman (ilmu bahasa, ilmu nahwu, balagah dan syair). Kedua, kurikulum sekunder yaitu matakuliah untuk mendukung memahami Islam (seperti logika, fisika, metafisika, dan matematika). Ketiga, kurikulum primer yaitu inti ajaran Islam (ilmu Fiqh, Hadist, Tafsir, dan sebagainya).


III. PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Ibn Khaldun. lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332 M dan wafat di Kairo pada 17 Maret 1406. Diadibesarkan dalam pangkuan ayahnya yang sekaligus merupakan guru pertamanya. Bersama ayahnya ia di ajari membaca al-Qur’an dan menghafalnya serta mempelajari berbagai macam qira’at dan penafsirannya, sekaligus belajar hadits dan fiqih. Selain dari ayahnya, ia juga diajari tata bahasa dan retorika oleh ulama terkenal di Tunisia
Ia juga mempelajari beberapa bidang oleh bebeapa guru, seperti bidang bahasa oleh Abu Abdillah Muhammad Ibn Al-‘Arabi al-Hasyayiri, Abu al-‘Abbas Ahmad ibn al-Qassar, Abu ‘Abdillah Ibn Bahar. Bidang keilmuan hadits, Syamsuddin Abu ‘Abdillah al-Wadiyasi. Bidang fiqh, ia belajar pada sejumlah guru, di antaranya Abu ‘Abdillah mUhammad al-Jiyani dan Abu Qahiri. Selain ilmu-ilmu keislaman, Ibn Khaldun juga belajar ilmu-ilmu rasional (filosofis), yaitu teologi, logika, ilmu alam, matematika dan astronomi, kepada Abu’Abdillah Muhammad ibn Al-Abili
2.      Karya-karya termasyhur dari Ibn Khaldun, ialah :
a.      Kitab Muqaddimah (gejala-gejala sosial dan sejarahnya).
b.      Kitab al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar, fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi as-Sulthani al-‘Akbar (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang-orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan Mereka)
c.       Kitab al-Ta’rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuhu Syarqon wa Ghorban (al-Ta’rif). (berisi tentang beberapa bab mengenai kehidupan Ibn Khaldun).
3.      Konsep pendidikan menurut Ibn Khaldun, meliputi :
a.       Tujuan Pendidikan
Ibn Khaldun berpendapat bahwa tujuan pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal
b.      Klasifikasi Ilmu
1.       Ilmu Lisan (bahasa)
2.       Ilmu Naqli
3.      Ilmu Aqli
c.       Sifat-Sifat Pendidik
Dalam hal ini Ibn Khaldun mengemukakan 6 prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu:
1.       Prinsip pembiasaan
2.      Prinsip tadrij (berangsur-angsur)
3.      Prinsip pengenalan umum (generalistik)
4.       Prinsip kontinuitas
5.       Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik
6.       Menghindari kekerasan dalam mengaja
d.      Peserta Didik
Dalam kaitannya dengan peserta didik, Ibn Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya sebagaimana yang acapkali dibicarakan para filosof, baik itu filosof dari golongan muslim atau non-muslim. Ia lebih banyak melihat manusia dalam hubungannya dan interaksinya dengan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat.
e.       Kurikulum
Pendapat Ibn Khaldunmengenai kurikulum cukup sempit, yaitu terbatas pada maklumat-maklumat dan pengetahuan yang di-kemukakan oleh guru atau sekolah dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab-kitab tradisional yang tertentu, yang dikaji oleh murid dalam tiap tahap pendidikan. Pengertian yang sempit terhadap kurikulum pada zaman itu tidak saja berlaku pada dunia Islam, bahkan juga di sebahagian negeri-negeri Timur, negeri-negeri Afrika yang bukan Islam, bahkan negeri-negeri Barat
B.     Saran
Setelah melihat tentang bagaimana konsep pendidikan dari Ibn Khaldun, sudah seharusnya para pendidik ataupun calon pendidik dapat menerapkan konsep-konsep tersebut dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Sehingga, kedepannya akan didapati para peserta didik yang memiliki akhlak serta moral yang baik dan dapat berguna bagi Agama dan Negara.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Syafii Ma’arif, Ibnu Khaldun Dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, Jakarta; Gema Insani Press, 1996
Muhammad Abdullah Enan, Biografi Ibnu Khaldun, Jakarta; Mizan, 2003
Fuad Baali dan Ali Wardi, Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003
Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002
Moh. Yamin, Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan, Yogyalarta: Divapress, 2010








[1] Ahmad Syafii Ma’arif, Ibnu Khaldun Dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, (Jakarta; Gema Insani Press, 1996), hal. 11
[2] Muhammad Abdullah Enan, Biografi Ibnu Khaldun, (Jakarta; Mizan, 2003), hal. 21
[3] Ahmad Syafii Ma’arif, Ibnu Khaldun Dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, hal. 17
[4] Fuad Baali dan Ali Wardi, Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam, ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), hal. 20.
[5] Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 103-104.
[6] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 175-176.
[7] Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, hal. 105-106
[8] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 94-95
[9] Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, hal. 107-108
[11] Moh. Yamin, Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan, (Yogyalarta: Divapress, 2010), hal. 35.

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget